Accounting and Finance Tool.

Kalkulator, rumus, dan panduan akuntansi finance per industri, dalam bahasa Indonesia.

11 kalkulator perhotelan, diurutkan dari pencatatan jurnal sampai interpretasi hasil

Halaman ini disusun mengikuti urutan kerja akuntansi hotel dari awal sampai akhir, supaya mudah diikuti pemula: catat jurnalnya dulu, rapikan menjadi laporan, hitung indikatornya, analisis keuangannya, lalu baca hasilnya. Setiap kalkulator berisi contoh angka bawaan yang sudah dihitung dan diuji. Ganti dengan angka hotelmu, lalu baca hasilnya dalam tiga lapis: apa kata angkanya, kemungkinan penyebabnya, dan data apa yang belum kamu punya.

  1. 1Pencatatan Jurnal
  2. 2Dari Jurnal ke Laporan
  3. 3Indikator Operasional
  4. 4Analisis Keuangan
  5. 5Interpretasi Hasil

Tahap 1: Pencatatan Jurnal

Semua angka di halaman ini lahir dari jurnal, yaitu catatan harian setiap transaksi hotel. Kalau pencatatannya keliru, semua indikator sesudahnya ikut keliru, jadi tahap ini tidak bisa dilompati. Empat aturan pencatatan yang paling sering menentukan benar atau salahnya angka hotel:

Contoh pertama: tamu membayar deposit reservasi sebesar Rp500.000 untuk menginap bulan depan.

Debit

Kas Rp500.000

Uang diterima dari tamu hari ini.

Kredit

Pendapatan Diterima di Muka Rp500.000

Bukan pendapatan: tamu belum menginap, hotel masih berutang satu malam kamar.

Contoh kedua: satu kamar terjual satu malam dengan tarif Rp700.000, sama dengan tarif rata-rata pada contoh kalkulator KPI di tahap 3, dibayar tunai atau kartu saat tamu datang dan diakui pada night audit malam itu.

Debit

Kas / Piutang Kartu Rp700.000

Pembayaran diterima dari tamu.

Kredit

Pendapatan Kamar Rp700.000

Diakui karena malam menginapnya sudah berjalan.

Aturan lengkapnya, termasuk alokasi pendapatan paket dan biaya poin loyalty, ada di bagian pengakuan pendapatan pada Panduan Perhotelan.

Buka Alat Jurnal Praktikkan pencatatan ini di Alat Jurnal: tulis jurnal harian hotelmu sendiri dan lihat hasilnya terbentuk sebagai buku besar.

Tahap 2: Dari Jurnal ke Laporan

Jurnal harian tidak dibaca satu per satu. Setiap jurnal diposting ke buku besar, yaitu pengelompokan transaksi per akun: semua pendapatan kamar masuk ke akun Pendapatan Kamar, semua deposit masuk ke akun Pendapatan Diterima di Muka. Di akhir periode, saldo semua akun diringkas menjadi neraca saldo untuk memastikan total debit sama dengan total kredit. Dari neraca saldo yang seimbang itulah laporan laba rugi disusun.

Hotel menyusun laporan laba ruginya dengan format USALI: pendapatan dan biaya disajikan per departemen (Rooms, Food and Beverage, dan departemen operasi lain), lalu dikurangi biaya yang tidak terdistribusi seperti administrasi, pemasaran, dan pemeliharaan. Sisa akhirnya adalah Gross Operating Profit (GOP), angka yang menjadi dasar GOPPAR di tahap berikutnya. Dasar pengakuan pendapatannya mengikuti model di ringkasan IFRS 15.

Sebelum lanjut menghitung indikator, empat hal ini harus sudah rapi, karena kalkulator tidak bisa memperbaiki catatan yang berantakan:

Penjelasan struktur biaya departemental USALI selengkapnya ada di bagian struktur biaya pada Panduan Perhotelan.

Buka Alat Jurnal Semua rantai tahap ini bekerja otomatis di Alat Jurnal: jurnal yang kamu simpan langsung terposting ke buku besar, neraca saldo, dan laporan laba rugi USALI.

Tahap 3: Indikator Operasional

Membaca operasi harian dari laporan

Indikator di tahap ini menjawab pertanyaan operasional: seberapa penuh hotel, berapa tarif rata-rata yang tercapai, berapa pendapatan dan laba operasi per kamar yang tersedia, dan berapa biaya melayani satu kamar terjual. Untuk outlet makanan dan minuman, RevPASH membaca pendapatan per kursi per jam, sedangkan food cost dan prime cost mengendalikan pemakaian bahan dan beban tenaga kerja. Semua hasilnya tetap dibaca tiga lapis di tiap kalkulator: angka, kemungkinan penyebab, dan data yang belum ada.

1. KPI kamar hotel: Occupancy, ADR, RevPAR, TRevPAR, GOPPAR, CPOR

Occupancy = Kamar Terjual / Kamar Tersedia. ADR = Pendapatan Kamar / Kamar Terjual. RevPAR = Pendapatan Kamar / Kamar Tersedia. GOP = Total Pendapatan - Total Biaya Operasi. GOPPAR = GOP / Kamar Tersedia. CPOR = Biaya Divisi Kamar / Kamar Terjual.

Rumus mengikuti struktur laporan departemental USALI. Contoh bawaan diuji terhadap hitungan tangan. Penjelasan struktur biayanya di panduan perhotelan.

2. RevPASH outlet makanan dan minuman

RevPASH = Pendapatan F&B / (Kursi Tersedia x Jam Buka)

RevPASH dipakai untuk membandingkan outlet dan jam operasional, pendamping KPI kamar di panduan perhotelan.

3. Food cost outlet F&B hotel

Food Cost % = (Persediaan Awal + Pembelian - Persediaan Akhir) / Pendapatan Makanan x 100%

Metode pemakaian, bukan pembelian, mengikuti praktik pemakaian bahan F&B yang dibahas di panduan perhotelan. Proporsi contoh bawaan meniru contoh sumber riset (bahan terpakai 13 dari pendapatan 40).

4. Prime cost outlet F&B hotel

Prime Cost = COGS Makanan + COGS Minuman + Total Labor (upah, pajak payroll, tunjangan)

Dua biaya yang bisa dikendalikan harian di outlet F&B hotel adalah bahan dan labor, karena itu keduanya dijumlah dalam satu angka. Lihat panduan perhotelan.

Tahap 4: Analisis Keuangan

Dari indikator harian ke keputusan keuangan

Tahap ini memakai angka laporan untuk pertanyaan yang lebih besar: berapa penjualan minimum agar tidak rugi (break-even), berapa lama kas tertahan di persediaan, piutang, dan utang (modal kerja), apakah kas cukup untuk 13 minggu ke depan (arus kas), seberapa sehat struktur laporan (rasio dan DuPont), bagaimana aset dan FF&E menyusut (depresiasi), berapa biaya modal hotel (WACC), dan apakah rencana seperti renovasi kamar layak dibiayai (NPV, IRR, payback). Urutannya disengaja dari yang paling dekat ke operasi harian menuju keputusan investasi jangka panjang.

5. Break-even dan CVP

Margin Kontribusi = Harga Jual - Biaya Variabel per Unit. Titik Impas Unit = Biaya Tetap / Margin Kontribusi.

Bagian dari analisis cost-volume-profit akuntansi manajerial. Untuk keputusan beli aset, lanjutkan ke kalkulator NPV.

7. Proyeksi arus kas 13 minggu

Saldo Minggu ke-n = Saldo Awal + n x (Kas Masuk per Minggu - Kas Keluar per Minggu), memakai rata-rata mingguan.

Format 13 minggu adalah horizon lazim rolling forecast kas jangka pendek. Versi per minggu satu per satu perlu data jatuh tempo, lihat bagian Belum diketahui pada hasil.

8. Rasio lengkap dan DuPont

ROE menurut DuPont = (Laba Bersih / Penjualan) x (Penjualan / Rata-rata Aset) x (Rata-rata Aset / Rata-rata Ekuitas)

Contoh bawaan konsisten: margin 10 persen x perputaran 1,5 x pengganda 1,67 menghasilkan ROE 25 persen, sama dengan laba bersih dibagi rata-rata ekuitas.

9. Depresiasi: garis lurus dan saldo menurun ganda

Garis Lurus = (Harga Perolehan - Nilai Residu) / Umur Manfaat. Saldo Menurun Ganda = Nilai Buku Awal Tahun x (2 / Umur Manfaat), berhenti di nilai residu.

Aturan pengukuran aset tetap mengikuti IAS 16 atau PSAK terkait. Metode dan umur fiskal di Indonesia mengikuti ketentuan pajak dan bisa berbeda dari hitungan komersial ini.

10. WACC, biaya modal rata-rata tertimbang

WACC = Bobot Utang x Biaya Utang x (1 - Tarif Pajak) + Bobot Ekuitas x Biaya Ekuitas

Biaya ekuitas lazimnya ditaksir dengan CAPM: Ke = Rf + beta x (Rm - Rf). WACC hasil hitungan ini dipakai sebagai tingkat diskonto di kalkulator NPV.

11. NPV, IRR, dan payback

NPV = -Investasi Awal + jumlah Arus Kas tahun t / (1 + r) pangkat t. IRR adalah tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan nol.

Contoh bawaan dihitung tangan untuk verifikasi: NPV pada diskonto 10% adalah Rp24.342.600 (dibulatkan) dan payback tepat 2 tahun. Tingkat diskonto bisa diambil dari hasil WACC.

Tahap 5: Interpretasi Hasil

Hasil hitung belum berarti apa-apa sebelum dibaca dengan urutan yang benar. Situs ini memakai tiga lapis yang sama di semua kalkulator: Observasi, yaitu apa yang benar-benar ditunjukkan angka; Inferensi, yaitu kemungkinan penyebabnya, dan sifatnya selalu bersyarat sampai dibuktikan dengan data lain; lalu Belum diketahui, yaitu data yang belum kamu punya dan harus dicari sebelum mengambil keputusan. Contoh rangkaian utuhnya seperti ini, memakai angka contoh pada kalkulator KPI di tahap 3.

Bulan ini hotel menjual 2.100 dari 3.000 kamar tersedia dengan pendapatan kamar Rp1.470.000.000, sehingga Occupancy 70 persen, ADR Rp700.000, dan RevPAR Rp490.000. Bulan lalu RevPAR tercatat Rp450.000, jadi pendapatan per kamar naik. Tetapi GOPPAR bulan ini Rp280.000, turun dari Rp300.000 bulan lalu: pendapatan naik, laba operasi per kamar justru turun.

Observasi

RevPAR naik dari Rp450.000 menjadi Rp490.000, sementara GOPPAR turun dari Rp300.000 menjadi Rp280.000. Biaya divisi kamar bulan ini Rp315.000.000 untuk 2.100 kamar terjual, atau CPOR Rp150.000 per kamar. Yang pasti dari angka ini hanya satu: pertumbuhan pendapatan tidak sampai ke laba operasi.

Inferensi (bersyarat)

Jika kenaikan occupancy datang terutama dari kanal OTA, komisi distribusi ikut naik dan bisa memakan kenaikan tarif. Jika CPOR naik karena lembur atau tambahan amenitas per kamar, biaya melayani tamu tumbuh lebih cepat dari tarifnya. Keduanya baru dugaan yang masuk akal; angka KPI saja tidak membuktikan mana yang benar.

Belum diketahui

Rincian biaya per departemen bulan lalu untuk pembanding CPOR, pangsa penjualan per kanal (OTA, langsung, corporate), dan tarif rata-rata per segmen tamu. Tanpa tiga data ini, penyebab turunnya GOPPAR belum bisa dipastikan.

Keputusan yang hati-hati dari rangkaian ini bukan langsung menaikkan tarif atau memotong biaya, melainkan membuka laporan departemental bulan ini dan bulan lalu, memeriksa CPOR dan biaya distribusi per kanal, lalu hanya bertindak pada pos yang terbukti membengkak. RevPAR yang naik adalah kabar baik, tetapi belum cukup bukti bahwa kinerja hotel membaik.

Untuk berlatih urutan ini dari awal, ikuti Jalur 3: Perhotelan, dan dalami konteks industrinya di Panduan Perhotelan.